ARTIKEL| Sahabat Media Sumselnews – Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu kunci utama kebahagiaan adalah ketaatan seorang istri kepada suami. Islam memandang hal ini bukan sekadar kewajiban, tetapi juga ibadah besar yang mendatangkan pahala surga.
—🌿 Pintu Surga dari Ketaatan Istri
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang wanita melaksanakan salat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban – shahih)
Hadis ini menegaskan, ketaatan istri kepada suami dalam hal yang baik (ma’ruf) adalah salah satu jalan mudah menuju surga. Bahkan, amal sederhana yang dilakukan istri dengan ikhlas untuk suaminya bisa bernilai ibadah besar di sisi Allah.
🌿 Akhlak Mulia Istri terhadap Suami
Ketaatan kepada suami tidak hanya dalam hal besar, tetapi juga tercermin dalam akhlak sehari-hari. Beberapa contoh akhlak mulia seorang istri:
-Menyambut suami dengan wajah ceria saat pulang kerja.
-Membuatkan kopi atau teh meski sederhana.
-Menghormati dan menghargai perkataan suami.
-Tidak membebani suami dengan tuntutan berlebihan.
Hal-hal kecil inilah yang menumbuhkan cinta dan menambah keharmonisan rumah tangga.
Lalu….🌿 Pekerjaan Rumah: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Secara fikih, pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, atau membersihkan rumah diperselisihkan oleh para ulama.
Sebagian ulama (Hanafi dan Syafi’i) menyatakan pekerjaan rumah bukan kewajiban syar’i istri, tapi bila dilakukan ikhlas bernilai ibadah.
Sebagian ulama lain (Maliki dan Hanbali) menegaskan istri wajib melayani suami sesuai kebiasaan (‘urf), termasuk mengurus rumah.
Namun ada pula pendapat yang lebih rajih (kuat), dengan mencontohkan kehidupan rumah tangga Rasulullah ﷺ bersama putrinya, Fatimah r.a.
—🌿 Teladan Rasulullah ﷺ dan Fatimah r.a.
Diriwayatkan, Fatimah r.a. melayani suaminya Ali bin Abi Thalib r.a. dengan menggiling tepung, memasak roti, dan mencuci pakaian. Rasulullah ﷺ membiarkan hal itu berlangsung dan tidak membatalkan aktivitas tersebut.
👉 Seandainya pekerjaan rumah bukan bagian dari kewajiban istri, tentu Rasulullah ﷺ akan membela keluhan putrinya sendiri. Faktanya, beliau justru menasihati Fatimah dengan doa dan dzikir, bukan menghapuskan tugas domestiknya.
Bahkan, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya aku diperintahkan untuk menyuruh seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena Allah telah menjadikan besar hak suami atas istrinya.”
(HR. Abu Daud)
Berikut Pandangan Ulama dan Mazhab tentang Pekerjaan Rumah
1. Mazhab Hanafi
Istri tidak wajib mengurus rumah. Kewajiban utamanya adalah taat dan menjaga kehormatan.
2. Mazhab Maliki
Istri wajib melayani suami sesuai kebiasaan (‘urf). Jika masyarakat menilai wajar istri memasak dan mengurus rumah, itu menjadi kewajiban.
3. Mazhab Syafi’i
Pekerjaan rumah bukan kewajiban mutlak istri, namun bila dilakukan berpahala besar.
4. Mazhab Hanbali
Istri wajib membantu urusan rumah tangga sesuai kemampuan dan adat setempat.
Kesimpulan Perbedaan
Tidak wajib mutlak → Hanafi, Syafi’i. Wajib sesuai adat → Maliki, Hanbali.
Pendapat rajih → Menetapkan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah bagian dari kewajiban istri, sebagaimana dicontohkan pada keluarga Ali dan Fatimah r.a.
—-🌿 Rumah Tangga Harmonis
Keharmonisan rumah tangga tidak lahir dari harta, tetapi dari akhlak dan saling menghargai.
Suami bekerja keras → istri menyambut dengan senyum dan pelayanan sederhana.
Istri mengurus rumah dengan ikhlas → suami merasa dihargai.
Suami ikut membantu pekerjaan rumah → meneladani kelembutan Rasulullah ﷺ.
👉 Menelantarkan tugas rumah tangga adalah kelalaian. Sebaliknya, mengurus rumah tangga adalah amal agung yang bahkan bisa menyamai jihad fi sabilillah.
—🌷 Contoh Praktis
1. Suami pulang kerja lelah → istri menyiapkan minuman hangat, kopi dan lainnya.
2. Istri ikut bekerja → suami membantu pekerjaan ringan tanpa merasa direndahkan.
3. Istri berakhlak lembut → tidak merendahkan suami meski penghasilan suami lebih kecil
4. Suami penuh kasih → tidak memaksa, tapi mendidik dengan cinta.
––🌷 Kesimpulan
1. Taat kepada suami dalam hal kebaikan adalah jalan surga bagi istri.
2. Pekerjaan rumah → menurut sebagian ulama bukan kewajiban mutlak, tapi pendapat yang lebih kuat: istri memang bertugas mengurus rumah tangga sebagaimana dicontohkan Fatimah r.a.
3. Mengurus rumah tangga adalah ladang amal shalih yang nilainya besar, bahkan sebanding dengan jihad para lelaki.
4. Rumah tangga bahagia lahir dari sikap saling melengkapi, bukan saling menuntut.
✨ Penutup:
Istri yang taat kepada suami dan berakhlak baik tidak hanya membuat rumah tangga harmonis, tetapi juga mendapat janji surga dari Allah Ta’ala. Menjaga rumah, melayani suami, dan berbuat baik dalam hal kecil seperti menyambut dengan senyum atau menyiapkan minuman, adalah amal agung yang kelak menjadi saksi di hadapan Allah.
Sumber : Kajian Islam Berbagi Sumber /dok.net /Editor Darmawan Sinyoku








