Beranda Nasional SERANG 22 Tahun Menolak TPST Bojong Menteng, GANTARAWANG Institute Tegaskan: “Perlawanan Belum Selesai”

22 Tahun Menolak TPST Bojong Menteng, GANTARAWANG Institute Tegaskan: “Perlawanan Belum Selesai”

388
0

Serang – GANTARAWANG Institute menggelar Diskusi Panel bertajuk “Memori Kolektif: Refleksi 22 Tahun Perjuangan Menolak TPST Bojong Menteng” pada Senin (25/05/2026) malam di Kantor Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan solidaritas masyarakat dalam mempertahankan perjuangan penolakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong Menteng yang telah berlangsung selama 22 tahun.

Mengusung tema “Memori Menyatukan, Perlawanan Berlanjut”, forum diskusi menghadirkan sejumlah narasumber yang dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah perjuangan masyarakat Serang Selatan, yakni Ketua FRAS (Front Rakyat Anti Sampah) Yaya Hudaya, Praktisi Media sekaligus Direktur Kajian Banten Barometer Wahyudin Syafei, Aktivis Senior Tunjung Teja Farijal Ma’mun, serta tokoh pendidik dan masyarakat Iyan Apeck.

Dalam pemaparannya bertajuk “Histori Gerakan Penolakan TPST”, Yaya Hudaya menegaskan bahwa perjuangan masyarakat menolak TPST Bojong Menteng lahir dari kesadaran kolektif demi menjaga ruang hidup dan masa depan lingkungan.

“Perjuangan ini lahir dari keresahan masyarakat terhadap dampak lingkungan, kesehatan, dan ancaman sosial yang mungkin ditimbulkan. Selama 22 tahun masyarakat tetap konsisten menyatakan bahwa Bojong Menteng bukan kawasan yang layak dijadikan lokasi TPST,” ujar Yaya.

Ia menjelaskan, berbagai bentuk perjuangan mulai dari aksi penolakan, dialog publik, hingga konsolidasi lintas elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan gerakan tersebut.

Sementara itu, Wahyudin Syafei melalui materinya “Media Massa sebagai Media Perlawanan” menyoroti pentingnya peran media dalam mengawal isu lingkungan dan menjaga suara masyarakat tetap hidup di ruang publik.

“Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga instrumen kontrol sosial. Ketika masyarakat menghadapi kebijakan yang dianggap mengancam ruang hidupnya, media harus hadir memastikan suara publik tidak dibungkam,” tegas Wahyudin.

Menurutnya, dokumentasi, tulisan, dan pemberitaan media selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan kolektif perjuangan masyarakat menolak TPST Bojong Menteng.

Pada sesi berikutnya, Farijal Ma’mun membahas pentingnya pengorganisasian masyarakat melalui materi “Skema Manajemen Massa”. Ia menilai, gerakan rakyat yang mampu bertahan puluhan tahun harus dibangun melalui komunikasi yang sehat, solidaritas, kaderisasi, serta manajemen gerakan yang terarah.

“Gerakan sosial tidak cukup hanya mengandalkan semangat sesaat. Harus ada pola komunikasi yang kuat dan kemampuan membaca situasi agar perjuangan tidak mudah terpecah,” ungkap Farijal.

Sedangkan Iyan Apeck menekankan bahwa perjuangan menolak TPST bukan sekadar persoalan sampah, tetapi juga menyangkut keadilan ekologis, kesehatan lingkungan, dan hak masyarakat dalam menentukan arah pembangunan wilayahnya.

“Persoalan lingkungan merupakan bagian dari pendidikan sosial masyarakat. Warga memiliki hak untuk menentukan pembangunan yang tidak mengorbankan kesehatan dan keberlanjutan lingkungan hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan, slogan “Perlawanan Belum Selesai” dan seruan “Bojong Menteng Bukan Tempat Sampah” menjadi simbol konsistensi perjuangan masyarakat Serang Selatan dalam menolak pembangunan TPST di wilayah tersebut.

Diskusi panel berlangsung interaktif dan dihadiri berbagai elemen masyarakat, aktivis, pemuda, serta tokoh lokal. Selain menjadi ruang mengenang perjalanan panjang perjuangan, forum ini juga menjadi momentum konsolidasi moral dan sosial guna menjaga keberlanjutan gerakan penolakan TPST Bojong Menteng di masa mendatang.

**/Rilis/Tata

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini