Beranda Nasional JAKARTA Indonesia Jangan Terus Jadi Penonton, Prof. Sutan Nasomal Dorong Presiden Susun Roadmap...

Indonesia Jangan Terus Jadi Penonton, Prof. Sutan Nasomal Dorong Presiden Susun Roadmap Sepak Bola Nasional

406
0

JAKARTA — Posisi Indonesia yang belum terlibat dalam persaingan sepak bola Asia Tenggara pada agenda pertandingan yang melibatkan Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam menjadi perhatian Prof. Sutan Nasomal, S.H., M.H. Ia mendorong pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional menyusun roadmap atau cetak biru jangka panjang agar prestasi sepak bola Indonesia dibangun melalui sistem yang berkelanjutan.

Menurut Sutan, kegagalan dalam sebuah kompetisi merupakan bagian dari dinamika olahraga. Namun, kondisi tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pembinaan, kompetisi, kualitas pelatih, infrastruktur serta tata kelola sepak bola nasional.

“Dunia persepakbolaan selama ini Indonesia hanya jadi penonton. Kita harapkan Presiden merangkul tokoh olahraga untuk ke depannya Indonesia bisa mengambil bagian dalam dunia persepakbolaan dunia,” ujar Sutan saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online melalui sambungan telepon dari Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Ia menilai pembangunan sepak bola tidak dapat hanya berorientasi pada pergantian pemain, pelatih atau pencapaian jangka pendek. Menurutnya, diperlukan strategi nasional yang mencakup pembinaan pemain sejak usia dini, kompetisi berkualitas, peningkatan kapasitas pelatih, pembangunan infrastruktur, tata kelola organisasi yang profesional serta program pembinaan yang konsisten.

Sorotan tersebut disampaikan Sutan di tengah agenda pertandingan yang melibatkan empat negara Asia Tenggara pada 15–19 Agustus 2026. Singapura dijadwalkan menghadapi Thailand pada 15 Agustus, disusul Malaysia melawan Vietnam pada 16 Agustus. Pertandingan berikutnya mempertemukan Thailand dengan Singapura pada 18 Agustus dan Vietnam menghadapi Malaysia pada 19 Agustus.

Sutan menilai, kondisi tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan pemain, pelatih atau organisasi sepak bola. Menurutnya, perlu ada evaluasi yang lebih menyeluruh mengenai bagaimana membangun sistem sepak bola nasional agar mampu menghasilkan pemain dan prestasi secara berkesinambungan.

“Memang sangat disayangkan. Tahun 2026 ini Indonesia dalam persaingan sepak bola kawasan Asia Tenggara hanya menjadi penonton ketika empat negara, Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam, bertarung membawa nama bangsanya,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat mempertemukan berbagai unsur, mulai dari insan sepak bola, mantan pemain, pelatih, akademisi, pengelola kompetisi hingga pemangku kepentingan olahraga lainnya untuk merumuskan cetak biru sepak bola nasional.

Menurut Sutan, target sepak bola Indonesia seharusnya tidak berhenti pada keberhasilan memenangkan satu pertandingan atau turnamen. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang mampu melahirkan generasi pemain berkualitas secara konsisten.

“Kekuatan sepak bola tidak lahir secara instan. Prestasi membutuhkan pembinaan panjang, kompetisi berkualitas, manajemen profesional, keberanian melakukan evaluasi dan konsistensi menjalankan program,” ujarnya.

Ia menegaskan, kritik terhadap kondisi sepak bola nasional semestinya dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan, bukan sekadar mencari pihak yang harus disalahkan.

“Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar kapan Indonesia menang, tetapi kapan Indonesia benar-benar membangun sistem sepak bola yang membuat prestasi menjadi sesuatu yang direncanakan, bukan cuma sekadar diharapkan?” pungkasnya.

Narasumber:

Prof. Sutan Nasomal, S.H., M. Pakar Hukum Internasional dan Ekonomi; Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID); Ketua YPLBH Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.; Rektor Universitas Pronass.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini