Beranda Artikel HUT RI ke-81: Jangan Hafal Indonesia Raya, Tetapi Lupakan Penciptanya

HUT RI ke-81: Jangan Hafal Indonesia Raya, Tetapi Lupakan Penciptanya

841
0

Oleh: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H. Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Ketua Umum PAMID, Ketua Umum YPLBH, Rektor Universitas STIA/STIH Pronass

SURABAYA, 16 Agustus 2026 — Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Tahun ini, Republik Indonesia memasuki usia kemerdekaan ke-81. Bendera Merah Putih dikibarkan, upacara dilaksanakan, dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan penuh penghormatan.

Namun, di tengah kemeriahan peringatan kemerdekaan, ada satu pertanyaan penting yang layak kita renungkan: apakah kita masih mengingat siapa pencipta Indonesia Raya?

Wage Rudolf Soepratman bukan sekadar nama yang tertulis dalam buku sejarah. Ia adalah sosok yang melalui karya dan keberaniannya ikut memberikan suara bagi tumbuhnya kesadaran kebangsaan Indonesia.

Yang lebih menyentuh, W.R. Soepratman wafat pada 17 Agustus 1938, tepat tujuh tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Ia pergi sebelum menyaksikan Merah Putih berkibar sebagai bendera negara yang merdeka. Ia tidak sempat menyaksikan Indonesia berdiri sebagai negara berdaulat. Ia bahkan tidak menyaksikan lagu yang diciptakannya menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Tetapi sejarah menunjukkan sesuatu yang sangat berharga: manusia dapat pergi, tetapi nilai perjuangannya dapat hidup jauh melampaui usia manusia itu sendiri.

Indonesia Raya Bukan Sekadar Lagu

Indonesia Raya pertama kali diperkenalkan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Momentum tersebut merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan kesadaran kebangsaan Indonesia.

Karena itu, Indonesia Raya tidak seharusnya dipandang hanya sebagai lagu yang wajib dinyanyikan ketika upacara.

Di balik setiap bait dan nada terdapat perjalanan sejarah tentang persatuan, keberanian, cita-cita kebangsaan dan perjuangan menuju Indonesia yang merdeka.

Ketika kita berdiri tegak menyanyikan Indonesia Raya, sesungguhnya kita tidak hanya sedang menjalankan sebuah tata upacara.

Kita sedang menghormati sejarah.

Kita sedang mengingat para pendahulu.

Dan kita sedang menyadari bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak lahir secara tiba-tiba.

Jangan Sampai Bangsa Merdeka Kehilangan Ingatan Sejarah

Kemerdekaan bukan sekadar tanggal pada kalender.

Kemerdekaan adalah hasil dari proses panjang yang dibangun oleh berbagai generasi dengan pemikiran, keberanian, pengorbanan dan karya.

W.R. Soepratman merupakan salah satu bagian dari perjalanan tersebut.

Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, agar jangan sampai kita menjadi bangsa yang hafal menyanyikan Indonesia Raya tetapi tidak mengenal penciptanya.

Jangan sampai kita hafal liriknya, tetapi lupa sejarahnya.

Jangan sampai kita berdiri tegak ketika Indonesia Raya dikumandangkan, tetapi tidak memahami mengapa lagu itu memiliki kedudukan yang begitu penting bagi bangsa.

Lebih jauh lagi, jangan sampai generasi penerus hanya mengenal kemerdekaan dari perayaan, tetapi tidak memahami pengorbanan yang mendahuluinya.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi, ekonomi kuat dan teknologi maju. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghormati sejarah dan para pendahulunya.

17 Agustus 1938 dan 17 Agustus 1945

Ada sebuah rangkaian sejarah yang memiliki makna simbolis sangat kuat.

17 Agustus 1938: W.R. Soepratman wafat.

17 Agustus 1945: Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Jarak kedua peristiwa tersebut tepat tujuh tahun.

W.R. Soepratman tidak menikmati Indonesia merdeka. Namun, karya yang ditinggalkannya justru menjadi bagian dari identitas negara yang lahir setelah kepergiannya.

Di sinilah kita menemukan sebuah pelajaran besar.

Perjuangan seseorang tidak selalu harus dinikmati sendiri oleh orang yang memperjuangkannya.

Ada orang-orang yang menanam, sementara generasi berikutnya yang menikmati buahnya.

Ada orang-orang yang membangun fondasi, sementara generasi setelahnya yang berdiri di atas fondasi tersebut.

W.R. Soepratman adalah salah satu contoh bahwa sebuah karya yang lahir dari kecintaan kepada bangsa dapat hidup melampaui zaman.

Kemerdekaan Harus Diisi dengan Tanggung Jawab

Memperingati HUT ke-81 RI seharusnya tidak berhenti pada seremoni.

Kemerdekaan harus diisi dengan tanggung jawab.

Persatuan harus dijaga.

Hukum harus dihormati.

Keadilan harus diperjuangkan.

Demokrasi harus dijalankan secara bertanggung jawab.

Kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Generasi muda harus mendapatkan pendidikan yang baik, kesempatan yang adil dan ruang untuk berkontribusi bagi bangsa.

Inilah cara kita menghormati perjuangan para pendahulu.

Menghormati W.R. Soepratman bukan hanya dengan menyebut namanya pada bulan Agustus. Menghormatinya berarti menjaga semangat kebangsaan yang tercermin dalam Indonesia Raya.

Jangan Lupakan Orang di Balik Lagu Kebangsaan

Setiap 17 Agustus, ketika Indonesia Raya berkumandang, marilah kita sejenak mengingat sosok yang menciptakannya.

Wage Rudolf Soepratman.

Ia wafat sebelum Indonesia merdeka.

Namun, karyanya tetap hidup setelah ia tiada.

Namanya terus disebut setiap kali Indonesia Raya dinyanyikan. Semangatnya terus hadir ketika bangsa Indonesia berbicara tentang persatuan dan kebangsaan.

Karena itu, HUT RI ke-81 hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat kembali ingatan sejarah kita.

Kita boleh merayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan.

Kita boleh mengibarkan Merah Putih setinggi-tingginya.

Kita boleh menyelenggarakan berbagai perlombaan dan kegiatan rakyat.

Tetapi jangan pernah melupakan bahwa di balik kemerdekaan terdapat perjalanan panjang dan pengorbanan banyak orang.

Dan di antara nama-nama yang patut terus dikenang itu terdapat W.R. Soepratman, pencipta Indonesia Raya.

Jangan hanya hafal Indonesia Raya.

Kenalilah penciptanya.

Jangan hanya merayakan kemerdekaan.

Pahami perjuangan yang melahirkannya.

Sebab bangsa yang melupakan sejarah pada akhirnya akan kehilangan arah tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan untuk apa kemerdekaan itu diperjuangkan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H.

Pakar Hukum Internasional dan Ekonom

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini